Awas Mom, Mom-Shaming Bisa Bikin Stress Lho!

Apakah Moms pernah dikomentari atas pilihan Moms dalam mendidik si kecil? Atau “diberitahu” mengenai perawatan yang lebih baik untuk si kecil? Secara umum, perilaku ini disebut sebagai mom shaming. Sebuah perilaku mengkritik pola asuh  ibu-ibu lain dengan membandingkan dengan dirinya, seolah ia ibu yang lebih baik, lebih tahu ataupun lebih sempurna.

Ingin tahu lebih lengkap tentang mom shaming? Siapa saja yang biasanya melakukan mom shaming? Dan bagaimana cara mengatasinya? Selengkapnya ayo ita simak bersama!

  1. Pengertian Mom Shaming

Berbeda dengan memberi saran yang membangun, mom shaming dapat dikategorikan sebagai bullying karena dapat membuat Moms merasa bersalah, buruk, bahkan depresi. Perlakuan mom shaming sendiri dapat berupa komentar, sindiran, hingga kritik negatif yang dapat menghancurkan kepercayaan diri ibu, terlebih ibu baru.

Berdasarkan penelitian C.S. Mott Children’s Hospital Universitas Michigan, 37% pelaku mom shaming adalah orang tua kandung ibu itu sendiri. Selain orang tua kandung, perilaku mom shaming juga datang dari suami (36%), mertua (31%), teman (14%) dan petugas kesehatan (18%).  Beberapa hal yang biasanya menjadi topic mom shaming adalah cara melahirkan bayi yang tidak secara normal (Misalnya, melalui operasi), tidak dapat menyusui langsung, menyusui di public, working mom, status pernikahan, hingga usia ibu yang menurut mereka terlalu muda atau tua untuk memiliki bayi.

Selain topic diatas, perbedaan cara merawat si kecil, mulai dari cara menggendong, cara memandikan, hingga perbedaan lain yang mungkin terjadi dalam perawatan dan pengasuhan si kecil pun dapat menjadi sasaran empuk bagi perilaku mom shaming untuk merendahkan harga diri ibu.

Baca juga Hati-Hati Baby Blues, Sindrom Paska Melahirkan yang Banyak Menyerang Ayah dan Bunda!

  1. Cara mengatasi mom shaming

Sebagaimana yang dijelaskan di atas, perilaku mom shaming dapat membawa dampak yang buruk bagi Ibu. Tidak hanya sampai membuat ibu kehilangan kepercayaan diri, menurut dokter Richard A. Honaker, MD, FAAFP , perilaku mom-shaming bisa menimbulkan reaksi kimia yang abnormal dalam otak, hingga menyebabkan depresi. Oleh karena itu, Moms harus lebih berhati-hati dalam menghadapi mom shaming ini.

Salah satu bentuk respon atas mom shaming yang dapat Moms lakukan adalah dengan mengintrospeksi diri. Apakah benar apa yang Moms lakukan salah sehingga menimbulkan komentar negatf? Apakah selama ini Moms sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyeimbangkan kewajiban Moms di dalam dan di luar rumah? Apakah pertumbuhan si kecil terhambat karena pola asuh Moms yang salah?

Setelah introspeksi diri dengan jujur, Moms harus berpikir lebih tenang dan objektif. Jangan terburu-buru menilai apa yang Moms lakukan sepenuhnya salah. Moms bisa mencari tahu terlebih dahulu baik melaui buku, dokter ataupun internet. Atau Moms bisa membandingkan komentar yang dikatakan orang lain dengan kondisi Moms sebenarnya, apakah ada terdapat perbedaan tersendiri yang membuat Moms mengambil pilihan yang berbeda dari orang tersebut dalam mengasuh si kecil.

Jika memang terdapat perbedaan kondisi atau pola pengasuhan Moms sebelumnya terasa lebih cocok, Moms memiliki hak untuk menolak dan tidak menaggapi komentar tersebut. Dengan begitu, tidak semua omongan yang dilontarkan orang lain akan Moms telan bulat-bulat. Moms bisa membedakan mana yang memberi kritik membangun atau yang hanya sekedar mengomentari tanpa empati dan mengerti kondisi Moms.

Moms harus pandai-pandai mengolah pola pikir agar tidak terjebak dalam stress akibat mom shaming. Yakinkan kembali diri sendiri bahwa yang Moms lakukan adalah yang terbaik untuk si kecil. Terlepas dari apapun komentar orang, Moms selalu berusaha menjadi ibu yang terbaik, termasuk di dalamnya memberi kebahagian bagi si kecil.

Sebagaimana Funtasplay yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan bagi anak-anak di seluruh dunia melalui aplikasi-aplikasi mendidik. Mulai dari buku cerita interaktif yang dapat membangun “saraf bahasa” di otak anak dan hubungan yang lebih dekat dengan orang tua, hingga permainan lain yang dapat meningkatkan kemampuan beimajinasi si kecil.

Sebagai Moms yang selalu menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya, Funtasplay dapat menjadi pilihan aplikasi yang tidak hanya mendidik tapi juga menyenangkan. Dengan begitu, waktu belajar tidak menjadi saat yang membosankan. Anak dapat belajar nilai-nilai positif hingga menambah kosakata baru melalui aplikasi buku cerita interaktif dari Funtasplay.

Selain menjadi sarana belajar buku cerita interaktif juga dapat menjadi dongeng pengantar tidur yang menarik, yang akan membuat waktu sebelum tidur menjadi saat menyenangkan yang dinantikan si kecil. Kecintaan akan akan dunia membaca pun dapat ditumbuhkan melalui aktivitas mendongeng dengan aplikasi buku cerita interaktif dari Funtasplay.

Tidak ada yang instan saat menjadi orang tua, Moms harus terus belajar sebagai salah satu usaha memberikan yang terbaik untuk si kecil. Mom shaming bisa menjadi salah satunya, belajar lebih bijaksana dan memilih ucapan mana yang bisa menjadi pelajaran atau sekedar angin lalu. Jangan lupa jadi bahagia ya Moms. Kalau Moms memiliki pengalaman mm shaming lainnya, jangan lupa comment di bawah!

Leave a comment